Blogger Widgets
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014



Abu Burdah bin Musa Al-Asy'ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: "Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti."
Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan bergelimang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan solat dan bersujud.

Jumat, 07 November 2014



Karya : Joni Ariadinata

ADZAN menyilet. Menyapa pintu-pintu. Menembus daun trembesi, ladang, lembah-lembah, orang-orang sibuk. Dan para petani itu. Perempuan-perempuan di kali, penyabit rumput, menyusui anak. Ada matahari terik. Ada lesung ditalu, bertalu-talu; suara paku dipalu pertanda kerja, sapi-sapi dihalau para gembala. Tertawa. Gembira.
“Gusti”, Muadzin Ali mendehem. Menatap Imam Mathori takjub, memandang jendela. Menunggu sesuatu.
“Tak ada yang datang. Apakah speaker di surau ini kurang keras memanggil mereka, Ali?”
“Musim tanam selalu membuat seluruh kampung sibuk. Seperti biasa. Lelaki dan perempuan. Bahkan anak-anak. Jangankan surau, bahkan sekolah selalu kosong.” Tersenyum. Berseloroh.”Maaf, Guru Brojol yang menceritakan hal itu kemarin sore.”
Katanya. Jadi sunyi. Imam Mathori terpaksa tertawa, lantas murung. Ada gurat tak jelas  ketika ia meludahkan batuk keras ke luar jendela, “Bahkan tak ada waktu untuk Tuhan. Begitu katanya?” tiba-tiba. Muadzin Ali mengangguk, tersentak.
“Barangkali musim panen mereka  akan ingat. Kita hanya bisa berharap, bukankah begitu?”
“Selalu,” Imam Mathori mengusap muka, menandaskan, “Adzan lah sekali lagi, Ali! Waktu sudah hampir habis…” Menatap jam. Merapihkan serban dan kopiah. Batuk.
Melengking. Suara Ali memanggil, suara adzan menembus atap menyayat dan berirama. Kembali lantang. Menuju lembah, sawah, menyeruak rumah-rumah, jendela-jendela: menyapa orang-orang yang tetap sibuk bekerja. Anak-anak rebut-riuh berkeliarantanpa dosa di pematang. Perempuan-perempuan bebal menenteng rantang suami,